Senin, 25 Februari 2019
Selasa, 19 Februari 2019
ujian 4
motivasi saya menuntut ilmu itu tiada batas nya,jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu.
pesan saya hormatilah yang lebih tua dari mu,dan hargailah.ilmu itu tidak mudah untuk kita dapat kan,,,,
kesan saya jika kita gagal jangan pernah putus asa,terus berjuang,,,
Kamis, 31 Januari 2019
budidaya jamur
Cara budidaya jamur tiram
Budidaya jamur tiram sangat cocok untuk daerah beriklim tropis
seperti Indonesia. Investasi yang dibutuhkan untuk memulai udaha
budidaya jamur tiram cukup murah dan bisa dilakukan bertahap. Bagian
tersulit adalah membuat baglog, media tanam yang telah diinokulaikan
dengan bibit jamur.
Nama latin jamur tiram adalah Pleurotus ostreatus, termasuk dalam kelompok Basidiomycota.
Disebut jamur tiram karena bentuk tajuknya menyerupai kulit tiram.
Berwarna putih berbentuk setengah lingkaran. Di alam bebas, jamur tiram
putih biasa ditemukan pada batang-batang kayu yang sudah lapuk. Mungkin
karena itu, jamur tiram sering disebut jamur kayu.
Ada dua kegiatan utama dalam budidaya jamur tiram. Tahap pertama
adalah membuat media tanam dan menginokulasikan bibit jamur ke dalam
media tanam tersebut. Sehingga media ditumbuhi miselium berwarna putih
seperti kapas. Tahap kedua adalah menumbuhkan miselium tersebut menjadi
badan buah.
Untuk pendatang baru, biasanya memulai kegiatan budidaya dengan
menumbuhkan baglog menjadi daging buah. Sementara pengadaan, baglog yang
siap tumbuh didapat dengan membeli dari pihak lain. Kemudian setelah
usaha budidayanya berkembang dan volumenya banyak, baru mencoba membuat
baglog sendiri.
Dalam tulisan ini akan, saya akan mengulas langkah yang harus dipersiapkan untuk memulai budidaya jamur tiram putih.
Menyiapkan kumbung
Kumbung atau rumah jamur adalah tempat untuk merawat baglog dan
menumbuhkan jamur. Kumbung biasanya berupa sebuah bangunan, yang diisi
rak-rak untuk meletakkan baglog. Bangunan tersebut harus memiliki
kemampuan untuk menjaga suhu dan kelembaban.
Kumbung biasanya dibuat dari bambu atau kayu. Dinding kumbung bisa
dibuat dari gedek atau papan. Atapnya dari genteng atau sirap. Jangan
menggunakan atap asbes atau seng, karena atap tersebut akan mendatangkan
panas. Sedangkan bagian lantainya sebaiknya tidak diplester. Agar air
yang digunakan untuk menyiram jamur bisa meresap.
Di dalam kumbung dilengkapi dengan rak berupa kisi-kisi yang dibuat
bertingkat. Rak tersebut berfungsi untuk menyusun baglog. Rangka rak
bisa dibuat dari bambu atau kayu. Rak diletakkan berjajar. Antara rak
satu dengan yang lain dipisahkan oleh lorong untuk perawatan.
Ukuran ketinggian ruang antar rak sebaiknya tidak kurang dari 40 cm,
rak bisa dibuat 2-3 tingkat. Lebar rak 40 cm dan panjang setiap ruas rak
1 meter. Setiap ruas rak sebesar ini bisa memuat 70-80 baglog.
Keperluan rak disesuaikan dengan jumlah baglog yang akan dibudidayakan.

Sebelum baglog dimasukkan kedalam kumbung, sebaiknya lakukan persiapan terlebih dahulu. Berikut langkah-langkahnya:
- Bersihkan kumbung dan rak-rak untuk menyimpan baglog dari kotoran.
- Lakukan pengapuran dan penyemprotan dengan fungisida di bagian dalam kumbung. Diamkan selama 2 hari, sebelum baglog dimasukkan ke dalam kumbung.
- Setelah bau obat hilang, masukkan baglog yang sudah siap untuk ditumbuhkan. Seluruh permukaannya sudah tertutupi serabut putih.
Menyiapkan baglog
Baglog merupakan media tanam tempat meletakkan bibit jamur tiram.
Bahan utama baglog adalah serbuk gergaji, karena jamur tiram termasuk
jamur kayu. Baglog dibungkus plastik berbentuk silinder, dimana salah
satu ujungnya diberi lubang. Pada lubang tersebut jamur tiram akan
tumbuh menyembul keluar.
Pada usaha budidaya jamur tiram skala besar, petani jamur biasanya
membuat baglog sendiri. Namun bagi petani pemula, atau petani dengan
modal terbatas biasanya baglog dibeli dari pihak lain. Sehingga petani
bisa fokus menjalankan usaha budidaya.
Saat ini, baglog jamur tiram yang berbobot sekitar 1 kg dijual dengan
harga Rp. 2.000-2.500. Adapun bila ingin membuat sendiri silahkan baca
cara membuat baglog jamur tiram.
Cara merawat baglog
Terdapat dua cara menyusun baglog dalam rak, yakni diletakkan secara vertikal dimana lubang baglog menghadap ke atas. Dan secara horizontal, lubang baglog menghadap ke samping.Kedua cara ini memiliki kelebihan masing. Baglog yang disusun secara horizontal lebih aman dari siraman air. Bila penyiraman berlebihan, air tidak akan masuk ke dalam baglog. Selain itu, untuk melakukan pemanenan lebih mudah. Hanya saja, penyusunan horizontal lebih menyita ruang.

Berikut cara-cara perawatan budidaya jamur tiram adalah sebagai berikut:
- Sebelum baglog disusun, buka terlebih dahulu cincin dan kertas penutup baglog. Kemudian diamkan kurang lebih 5 hari. Bila lantai terbuat dari tanah lakukan penyiraman untuk menambah kelembaban.
- Setelah itu, potong ujung baglog untuk memberikan ruang pertumbuhan lebih lebar. Biarkan selama 3 hari jangan dulu disiram. Penyiraman cukup pada lantai saja.
- Lakukan penyiraman dengan sprayer. Penyiraman sebaiknya membentuk kabut, bukan tetesan-tetesan air. Semakin sempurna pengabutan semakin baik. Frekuensi penyiraman 2-3 kali sehari, tergantung suhu dan kelembaban kumbung. Jaga suhu pada kisaran 16-24oC.
Panen budidaya jamur tiram
Bila baglog yang digunakan permukaannya telah tertutup sempurna
dengan miselium, biasanya dalam 1-2 minggu sejak pembukaan tutup baglog,
jamur akan tumbuh dan sudah bisa dipanen. Baglog jamur bisa dipanen
5-8 kali, bila perawatannya baik. Baglog yang memiliki bobot sekitar 1
kg akan menghasilkan jamur sebanyak 0,7-0,8 kg. Setelah itu baglog
dibuang atau bisa dijadikan bahan kompos.
Pemanenan dilakukan terhadap jamur yang telah mekar dan membesar.
Tepatnya bila ujung-ujungnya telah terlihat meruncing. Namun tudungnya
belum pecah warnanya masih putih bersih. Bila masa panen lewat setengah
hari saja maka warna menjadi agak kuning kecoklatan dan tudungnya pecah.
Bila sudah seperti ini, jamur akan cepat layu dan tidak tahan lama.
Jarak panen pertama ke panen berikutnya berkisar 2-3 minggu.
Kamis, 17 Januari 2019
Cara Menjaga Lingkungan Hidup
Usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup
merupakan tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini, usaha pelestarian
lingkungan hidup tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah saja,
melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat.
Pada pelaksanaannya, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan
yang dapat digunakan sebagai payung hukum bagi aparat pemerintah dan
masyarakat dalam bertindak untuk melestarikan lingkungan hidup.
Beberapa kebijakan yang telah
dikeluarkan pemerintah tersebut, antara lain meliputi hal-hal berikut
ini. 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan- Ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. Surat Keputusan Menteri
Perindustrian Nomor 148/11/SK/4/1985 tentang Pengamanan Bahan Beracun
dan Berbahaya di Perusahaan Industri. 3. Peraturan Pemerintah (PP)
Indonesia Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup. 4. Pembentukan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
pada tahun 1991. Selain itu, usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup
dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini :
- Melakukan pengolahan tanah sesuai kondisi dan kemampuan lahan, serta mengatur sistem irigasi atau drainase sehingga aliran air tidak tergenang.
- Memberikan perlakuan khusus kepada limbah, seperti diolah terlebih dahulu sebelum dibuang, agar tidak mencemari lingkungan.
- Melakukan reboisasi pada lahan-lahan yang kritis, tandus dan gundul, serta melakukan sistem tebang pilih atau tebang tanam agar kelestarian hutan, sumber air kawasan pesisir/pantai, dan fauna yang ada di dalamnya dapat terjaga.
- Menciptakan dan menggunakan barang-barang hasil industri yang ramah lingkungan.
- Melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap perilaku para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) agar tidak mengeksploitasi hutan secara besar-besaran.
Sementara itu, sebagai seorang pelajar
apa upaya yang dapat kalian lakukan dalam usaha pelestarian lingkungan
hidup? Beberapa hal yang dapat kalian lakukan sebagai bentuk upaya
pelestarian lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut:
- Menghemat penggunaan kertas dan pensil,
- Membuang sampah pada tempatnya,
- Memanfaatkan barang-barang hasil daur ulang,
- Menghemat penggunaan listrik, air, dan BBM, serta,
- Menanam dan merawat pohon di sekitar lingkungan rumah tinggal.
Disamping itu usaha pelestarian
lingkungan hidup ini harus dimulai dari setiap individu dengan
menitikberatkan pada kesadaran akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan
manusia dan pelestarian alam.
Budi Daya Ulat Sutra
Indonesia masih banyak mengimpor benang sutera karena kekurangan
bahan baku kerajinan kain. Ini kisah salah satu upaya bertahan unit
kecil rantai keajaiban ulat sutra (Bombyx mori) dari telur sampai jadi kain di Kabupaten Badung, Bali.
Menarik melihat budidaya ulat sutera. Tak hanya keajaibannya
menghasilkan serat benang sutra yang indah dan kuat, ulat ini
mengajarkan soal kemampuan adaptasi dan keseimbangan kehidupan.
Kehidupan baru setelah kematian.
Seperti terjadi di Agrowisata Sutera Sari Segara yang berlokasi di
Banjar Lateng, Sibang Kaja, Abiansemal. Di tengah pemukiman penduduk,
area sekitar 40 are kebun daun murbei ini dari depan tidak nampak hijau.
Gerbang rumah besi dengan balebengong di pojoknya dan pintu tertutup
rapat.
“Takutnya anjing masuk,” Tri Edy Mursabda, seorang pria tengah baya
manajer operasionalnya menyambut. Suasana sepi, sampai terlihat beberapa
blok kandang binatang seperti Rusa Timor, kalkun, dan Jalak Bali.
Sebuah ruangan audio visual berada paling depan, untuk menyambut
rombongan pelajar atau turis yang ingin memulai tur melihat keajaiban
ulat pemintal benang sutra ini. Mereka akan disuguhkan dengan video
perkenalan dan pengetahuan.

Terdapat ruangan paling besar dengan enam alat tenun bukan mesin,
meja dan kursi seperti kantin, dan gantungan kain-kain warna warni
beraneka corak. Dalam lemari-lemari kaca juga ada aksesoris jepit
rambut, bros, bando, dan lainnya.
Tri mengambil sebuah buku album berisi foto-foto yang mulai buram.
Kisah si ulat-ulat sutra ini terekam di sini. “Kami kekurangan bahan
baku untuk tenun,” ia membuka optimismenya dalam rantai budidaya ulat
sutra ini. Ini menjelaskan kenapa pada saat itu, akhir April lalu hanya
ada satu penenun yang bekerja melanjutkan menenun tiap helai benang
sutra menjadi kain corak merah kebiruan. Alat tenun lain masih tertempel
kain-kain setengah jadi berwarna merah, hijau, aneka corak. Menunggu
benang tambahan.
Agar para penenun dan pekerja lainnya tetap bisa beraktivitas, Tri
fokus mengembangkan wisata agro sejak 2008. Ia memulai dengan menyiapkan
lahan kebun murbei sekitar 40 are dan 10 are untuk bangunan. Tri
menyebut membibitkan ulat sutera tak sulit, cukup menyemai potongan
tangkai dahan sebelum ditanam di lahan. Untuk perawatan, pohon murbei
tua rutin dipangkas tiap 3 bulan agar dahannya tak terlalu tinggi
sehingga daunnya lebih lebat.
Suhu di lokasi ini relatif panas dibanding rekomendasi lokasi budi
daya ulat sutra antara ketinggian 400-800 meter di atas permukaan laut.
Namun Tri optimis dan menyiasatinya dengan mengurangi panas ruangan
makan si ulat dengan memasang blower.

Bibit berupa telur didatangkan dari Sopeng, karena tak setiap
pembudidaya bisa membibit sendiri dengan alasan menjaga kualitas dan
mencegah penyakit. “Kami bisa produksi telur tapi perlu alat dan ahli
yang periksa lab, dan lainnya,” urainya. Dalam 10 hari telur-telur akan
menetas. Tri memesan sekitar 100 ribu bibit telur tiap 3 bulan.
Pertumbuhannya dari ulat kecil, menjadi instar ulat makin besar dan
berganti kulit. Mereka terus makan dedaunan murbei dengan lahap sampai
22-25 hari. Setelah itu inilah tahapan yang paling dinanti, metamorfosis
jadi kepompong. Dalam tahap ini ulat tak makan daun lagi.
Ulat-ulat dipindahkan ke kotak-kotak kuning. Pada hari ke-3,
bulatan-bulatan kokon (cocon) atau kepompong sudah terlihat. Ulat
terlihat berada dalam kepompong memintal air liurnya jadi helai-helai
tipis putih seperti kapas. Dengan tekun gulungan ini makin rapat dan
tebal sampai ulat tak lagi terlihat.
Beberapa ulat terlihat tak mampu membuat kepompong dan mati. Melihat
proses ini terlihat mengesankan. Serdadu pekerja ini tekun memintal
dalam sunyi. Hari ke-4 bulatan kokon sudah penuh dan siap dipanen.

Sejumlah kokon yang disiapkan jadi indukan akan melakukan hal
menakjubkan untuk jadi larva dan bertelur. Ulat melubangi kokon persis
di titik dimulainya serat pertama diproduksi. Beda dengan ulat yang
bermetamorfosis jadi kupu-kupu, ulat sutra tidak jadi kupu-kupu.
Tri menyebut dari 10 kg kokon/kepompong saat dipintal menjadi 1 kg
benang. Bisa jadi kain dengan panjang 8 meter dan lebar 110 cm lebar.
Jika beroperasi penuh per hari kelompok budi daya ini menghasilkan
sekitar 30 kg benang. Harga beli cocon dari pembudidaya saat ini sekitar
Rp50 ribu/kg. Jadi masuk akal harga kain sutra lebih mahal.
Beralih ke lokasi pemintalan benang. Kepompong direbus beberapa saat
agar lebih lunak, baru dipintal. Selanjutnya diwarnai. Tri memberi tips
cara membandingkan benang sintetis dan sutra alami. Saat benang sutra
dibakar muncul bau rambut hangus dengan abu tipis yang mudah hilang.
Sementara benang sintetis jika dibakar seperti plastik dengan api merah.
Sifat kain sutra memang istimewa, saat cuaca dingin kita merasa hangat,
dan sebaliknya. Kain halus dan berkilau kena matahari tapi tak licin.
Seorang pekerja, Made Sari, menenun di agrowisata ini sejak 2010. Ia
menyelesaikan 2 meter kain/minggu. “Harus sabar tidak bisa sambil nonton
tv nanti rusak,” ia tersenyum.
Tri melihat potensi budidaya sangat menjanjikan karena pengerajin
kain masih kekurangan bahan baku sampai impor benang sutra. Karena itu
ia sendiri kerap kekurangan bahan baku sehingga produksi tenun terhenti.
Pihaknya sedang berupaya perbanyak kelompok tani ulat sutra. “Kita
sedang sosialisasi, hasil kepompong pasti kita beli,” ujarnya.
Selain menjual dalam bentuk kain, bagian lain dari budidaya juga kini
sudah diaplikasikan menjadi kerajinan. Misalnya kokon terlihat berubah
menjadi souvenir, dipotong berbagai bentuk dan diwarnai kemudian
dirangkai jadi hiasan rambut dan lainnya. Benang sutra juga diminati
seniman untuk rambut barong, alasannya benang ini terlihat lebih indah
dan hidup.
Dari laman Agro Indonesia,
disebutkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
mempermudah proses pengadaan telur ulat sutra dari luar negeri dengan
menerbitkan Peraturan Menteri LHK No.37/2017 tertanggal 7 Juni 2017.
Lewat kebijakan ini, usaha budidaya ulat sutra yang banyak dilakukan
masyarakat di sekitar hutan diharapkan bisa kembali bergairah. Produksi
kokon lokal pun diharapkan meningkat sehingga menekan impor benang sutra
yang lebih menguras devisa.
Mengutip artikel itu, Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan
Adat KLHK Hargyono menyebut produksi kokon di tanah air memang masih
minim. Setahun, hanya bisa menghasilkan sekitar 80 ton benang sutra
saja. Padahal, kebutuhan benang sutra nasional tiap tahunnya mencapai
800 ton. Untuk memenuhi kebutuhan itu, impor benang sutra, utamanya dari
Tiongkok pun harus dilakukan.
sejarah pulau penyengat
Alkisah, nama pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada awal abad
ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor-Riau yang
kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatera (masih di Riau).
Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau (akhir
abad ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997
diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini
sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan, dari
kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.
Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama
binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat
orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali
para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut.
Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau
Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama
Penyengat Inderasakti.
Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya
Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang
jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap
dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda
Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau
Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.
Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan
selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang
Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa
pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat
ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman,
keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya,
Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat
kedudukannya dari Daik ke Penyengat.
Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan
melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman
Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang
Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah
bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju
Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari
6.000 orang penduduk waktu itu yang tinggal di Penyengat setelah
peristiwa tersebut.
Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah.
Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara
para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah
dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak
mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini
dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.
Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan
dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji,
dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku
Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid
tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai
bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau
Penyengat semakin banyak.
Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan,
pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul
Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844),
menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu
pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu,
setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah
atau beramal di jalan Allah.
Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama.
Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai
saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah
itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam
perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai
tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki
selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat
menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid
selesai dikerjakan selama tiga pekan.
Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras,
sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah,
bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang
pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan
semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat
menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.
Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya
adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya
dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah
rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah.
Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan
makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus
mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja
Hamzah Yunus mengatakan, “Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun
oleh Raja Abdul Rahman.”
Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid
semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau
Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi,
sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang
didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari
kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah
sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan
pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.
Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat
unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang
mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang
dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang
didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid
merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab,
India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival
Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini
merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.
Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini
sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak
Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada
“kelompok” kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan
empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka
dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak
17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus
dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua
rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga
rakaat), dan isya (empat rakaat).
Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah
terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca
di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun
1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan
Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat
belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang
dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.
Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan
kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di
bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat
tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai
terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan
ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang
Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba
menerjemahkannya.
Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum
karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam
dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah
sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan
Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama
eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam
suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku
tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.
Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang
terbuat dari kayu jati. dua mimbar. Satu
mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar
lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara,
memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang
dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara
anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati)
untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika
berada di situ.
Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang
dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda
lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh
Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama
mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke
Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara
jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi
kanak-kanak.
penampilan suasana dalam Idul Fitri dan lintasan sejarah yang
dikandung Mesjid Sultan itu yang agaknya “mengusik” hati orang luar
datang mengerjakan shalat Idul Fitri atau Jumat (lihat: Naksabandiyah
dan Berbagai Kegiatan).
Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah
tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul
dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen
Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil
mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata
pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di
atas Rp 100 juta.
Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak
menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai
kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan
Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak
ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya.
Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.
Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu
mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari
Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti
menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar
pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua
belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan
orang akan wujud Allah.
Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap
pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat
mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka
dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja,
kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap
mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap
dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan
naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak
dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.
Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk
berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman
mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun
lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji
mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan
kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.
Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di
Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat
hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak
bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah.
Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia
tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka
selebar-lebarnya.
Kamis, 10 Januari 2019
internet pertamaku
Nama : nuraini
assalamu'alaikum wr.wb....perkenalkan nama saya nuraini,saya berasal dari kepulauan meranti,saya tamatan dari sekolah aliyah MAs Darun Naim sungai tohor.
internet....pertama kali saya tidak tau internet itu apa?emang sihh saya di aliyah pernah belejar internet,tpi dulu masih TIK bukan internet,tapi....saya ingin mendalamkan ilmu internet ini, kenapa saya ngomong ingin mendalamkan ilmu internet karena ilmu ini sangat berguna dan bermanfaat suatu saat nanti,dan dengan internet ini kita bisa mencari informasi di luar sana ,masih banyak lagi manfaat dari internet ini.
dan jika kita bisa mempunyai keahlian dalam ilmu internet ini kita membuka usaha,di cari orang,itu lah manfaat dari internet.setelah saya tau arti dari kata internet,ternyata internet itu asyik,menyenangkan bisa membantu orang,bisa mencari tau apa yang kita tidak ketahui ...
saat ini saya sedang belajar internet,sulit sihh tidak.....jika kita paham tentang internet pasti kita mudah untuk mempelajarinya,memahaminya,
assalamu'alaikum wr.wb....perkenalkan nama saya nuraini,saya berasal dari kepulauan meranti,saya tamatan dari sekolah aliyah MAs Darun Naim sungai tohor.
internet....pertama kali saya tidak tau internet itu apa?emang sihh saya di aliyah pernah belejar internet,tpi dulu masih TIK bukan internet,tapi....saya ingin mendalamkan ilmu internet ini, kenapa saya ngomong ingin mendalamkan ilmu internet karena ilmu ini sangat berguna dan bermanfaat suatu saat nanti,dan dengan internet ini kita bisa mencari informasi di luar sana ,masih banyak lagi manfaat dari internet ini.
dan jika kita bisa mempunyai keahlian dalam ilmu internet ini kita membuka usaha,di cari orang,itu lah manfaat dari internet.setelah saya tau arti dari kata internet,ternyata internet itu asyik,menyenangkan bisa membantu orang,bisa mencari tau apa yang kita tidak ketahui ...
saat ini saya sedang belajar internet,sulit sihh tidak.....jika kita paham tentang internet pasti kita mudah untuk mempelajarinya,memahaminya,
Langganan:
Postingan (Atom)


